DETAIL KOLEKSI

Penerapan metode statistical proses control dan failure mode and effect analysis (fmea) untuk proses perbaikan kualitas pada aluminium di PT.Superex Raya


Oleh : Ananda Satria Aditama

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Pembimbing 1 : Dorina Hetharia

Subyek : Failure analysis (Engineering);Product - Quality control

Kata Kunci : statistical process control, failure mode and effect analysis. quality.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2014_TA_STI_06310070_Halaman-Judul.pdf 4203.61
2. 2014_TA_STI_06310070_Lembar-Pengesahan.pdf 1220.1
3. 2014_TA_STI_06310070_Bab-1_Pendahuluan.pdf 1724.09
4. 2014_TA_STI_06310070_Bab-2_Landasan-Teori.pdf 9397.39
5. 2014_TA_STI_06310070_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf 1729.21
6. 2014_TA_STI_06310070_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf 5250.77
7. 2014_TA_STI_06310070_Bab-5_Pengolahan-Data-dan-Analisa.pdf 12460.69
8. 2014_TA_STI_06310070_Bab-6_Kesimpulan-dan-Saran.pdf 850.58
9. 2014_TA_STI_06310070_Daftar-Pustaka.pdf 828.43
10. 2014_TA_STI_06310070_Lampiran.pdf 3107.61

P PT. Superex Raya merupakan salah satu pabrik extrusi terbesar di Indonesia, yang memproduksi Profil Aluminium. Pada proses produksi Profil Aluminium di PT. Superex Raya ditemukan beberapa kesalahan atau kegagalan proses, sehingga produk yang dihasilkan tidak sesuai dan menjadi produk reject. Permasalahan utama yang terjadi pada PT. Superex Raya adalah persentase total reject aluminium melebihi target yang ditentukan oleh perusahaan, perusahaan menetapkan total reject yang diperbolehkan hanya 4.5 %. Untuk meminimasi adanya cacat tersebut, maka akan dianalisis penyebabnya dan melakukan perbaikan dengan menerapkan metode Statistical Process Control dan Failure Mode and Effect Analysis. Pada perhitungan Statistical Process Control dengan menggunakan peta kendali p diketahui rata-rata defect yang terjadi adalah 0.2519. Setelah dilakukan perhitungan ulang, yaitu revisi sebanyak 2 kali untuk menghilangkan titik-titik yang berada diluar batas kendali diperoleh rata-rata defect yaitu sebesar 0.2433, dan tidak ditemukan lagi data yang berada diluar batas kendali. Analisis penyebab cacat dilakukan dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis, dan diketahui nilai RPN tertinggi sebesar 210 yaitu disebabkan karena kondisi mesin kotor serta operator salah meletakkan komponen pada proses press dengan jenis cacat blister dan tergores. Berdasarkan jenis cacat tersebut usulan rencana perbaikan yang dilakukan yaitu melakukan pemeriksaan dan pembersihan mesin secara berkala sebanyak 2 kali dalam seminggu serta membuat rak untuk pengaturan peletakan komponen sehingga komponen diletakkan secara beraturan. Berdasarkan dua usulan perbaikan yang diperoleh, usulan yang dapat di implementasikan pada lantai produksi yaitu melakukan pemeriksaan dan pembersihan mesin secara berkala sebanyak 2 kali dalam seminggu, sedangkan pembuatan rak tidak dapat dijalankan karena dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu adaptasi penggunaan barang barn yang pada saat ini bagian produksi sedang mengejar target produksi yang telah ditentukan perusahaan. Setelah dilakukan implementasi diperoleh penurunan nilai rata-rata defect pada proses press yaitu dari 0,02519 menjadi 0,02304 untuk produk profil aluminium.

P PT. Superex Raya is one of the biggest extrusion plants in Indonesia, which produce Aluminum Profil. In PT. Superex Raya, it is found several problems or failures while producing Aluminum Profil, which resulting the end product did not meet the fulfill standard and become a reject. The main problem that happens in PT. Superex Raya is the total percentage of reject aluminum exceed the company's target, the company allows the acceptable total reject for 4.5%. To minimizing the defects, analysis will be conducted to find the causes and how to fix it using Statistical Process Control and Failure Mode and Effect Analysis method. In Statistical Process Control using control chart "p", the average defect is 0.2519. After recalculate by doing revision twice to eliminate the plot points outside the control limit, the average defect is 0.2433, and there is no data found outside the control limit. Analysis of defects is conducted using Failure Mode and Effect Analysis found that the highest RPN is 210 due to the dirty condition of the machine and components misplaced by the operator in the "press" process causing blister and scratch defects. Based on those defects, plan proposed for improvement are by doing periodical check and cleaning the machine twice a week, and build a rack to arrange the components so it's neatly stacked. From the two suggestions obtained, only the periodical checking and machine cleaning twice a week that can be implemented in production floor, while building the rack is a no-go because it takes time to adapt using a new tool and at the moment the production department is pursuing a company's target. After implementing the plan, the average defects in the "press" process is declining from 0.02519 to 0.02304 for aluminum profil product.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?