DETAIL KOLEKSI

Usulan penerapan total productive maintenance (tpm) dengan pengukuran overall equipment effectiveness (oee) untuk perencanaan perawatan pabrik bar mill pada PT. Krakatau Wajatama

2.0


Oleh : Annisa Merista Majid

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Pembimbing 1 : Parwadi Moengin

Pembimbing 2 : Amal Witonohadi

Subyek : Total productive maintenance;Industrial equipment - Maintenance and repair - Management

Kata Kunci : breakdown, delay, downtime, total produvtive maintanance (tpm), overall equipment effectiveness (oee

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2014_TA_TI_06310088_Halaman-Judul.pdf
2. 2014_TA_TI_06310088_Bab-1.pdf
3. 2014_TA_TI_06310088_Bab-2.pdf
4. 2014_TA_TI_06310088_Bab-3.pdf
5. 2014_TA_TI_06310088_Bab-4.pdf 25
6. 2014_TA_TI_06310088_Bab-5.pdf 57
7. 2014_TA_TI_06310088_Bab-6.pdf
8. 2014_TA_TI_06310088_Bab-7.pdf
9. 2014_TA_TI_06310088_Daftar-Pustaka.pdf
10. 2014_TA_TI_06310088_Lampiran.pdf

P PT. Krakatau Wajatama merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang pembuatan baja. PT. Krakatau Wajatama memproduksi dua jenis produk, yaitu produk baja tulangan di pabrik bar mill dan baja profil di pabrik section mill. Penelitian dilakukan di pabrik bar mill (baja tulangan). Permasalahan yang terjadi saat ini adalah perusahaan tidak melakukan perawatan dengan optimal sehingga menyebabkan mesin breakdown. Hal ini menyebabkan nilai downtime menjadi tinggi. Dengan dilakukannya penelitian ini maka diharapkan akan memberikan solusi dalam melakukan perawatan pada equipment di pabrik bar mill dengan menggunakan pendekatan total productive maintenance (TPM) dengan pengukuran overall equipment effectiveness. Upaya untuk mempersiapkan penerapan TPM dilakukan dengan menghitung nilai OEE untuk mengetahui indikator yang menjadi penyebab permasalahan pada PT. Krakatau Wajatama.Hasil perhitungan rata - rata OEE selama tiga bulan didapatkan nilai 21,17%. Penyebab rendahnya nilai OEE adalah indikator performance efficiency dan availability sebesar 72,81% untuk availability da 30,5% untuk performance efficiency. Langkah selanjutnya adalah menentukan mesin kritis dan komponen kritis dimana didapatkan dua mesin kritis yaitu Pinch Roll Flying She 2 dan Furnace Bar Mill dengan komponen kritis Brake Coupling Type 4-1200-1, Auxilary Drive, Charging Pusher dan Roll Table Approach Furnace. Langkah selanjutnya adalah menghitung Index of Fit untuk mengetahui distribusi yang sesuai kemudian dilakukan uji kesesuain data Goodness of Fit Test. Kemudian melakukan perhitungan parameter Mean Time To Falure (1VITTF) dan Mean Time To Repair (MTTR) pada distribusi yang terpilih, menghitung interval pencegahan dan interval pemeriksaan untuk mendapatkan penjadwalan perawatan dan nilai availability, serta menghitung nilai reliability atau keandalan mesin dengan adanya perawatan. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisa six big losses guna mencari akar permasalahan pada PT. Krakatau Wajatama. Kemudian dilakukan usulan perbaikan berdasarkan 8 pilar TPM, dimana yang menjadi focus adalah Planned Maintenance dengan usulan preventive maintenance, Autonomous Maintenance dengan pembuatan SOP dan Trainning untuk usulan pelatihan pada operator di lantai produksi. Nilai yang diharapkan untuk kenaikan OEE adalah sebesar 12,1% setelah diterapkan pendekatan TPM pada pabrik Bar Mill.

P PT. Krakatau Wajatama is a company engaged in the field of steelmaking. PT. Krakatau Wajatama produces two types of products, which are reinforced steel products in mill bar mill and profile steel in mill section factory. The research was conducted in a mill mill (reinforcing steel). The problem that occurs at this time is the company does not do the optimal treatment causing the breakdown engine. This causes the value of downtime to be high. By doing this research, it is expected to give solution in doing maintenance on equipment at bar mill mill by using total productive maintenance (TPM) approach with measurement of overall equipment effectiveness. The effort to prepare TPM implementation is done by calculating the OEE value to know the indicator that caused the problem at PT. Krakatau Wajatama. The result of OEE average for three months was 21,17%. The causes of low OEE values are performance performance and availability indicators of 72.81% for availability and 30.5% for performance efficiency. The next step is to determine the critical engine and critical components where two critical machines are obtained: Pinch Roll Flying She 2 and Furnace Bar Mill with critical components Brake Coupling Type 4-1200-1, Auxilary Drive, Charging Pusher and Roll Table Approach Furnace. The next step is to calculate the Index of Fit to find out the appropriate distribution and then test the suitability of Goodness of Fit Test data. Then perform the calculation of Mean Time To Falure (1VITTF) and Mean Time To Repair (MTTR) parameters on the selected distribution, calculate the prevention interval and check interval to obtain maintenance scheduling and availability values, and calculate the reliability or reliability value of the machine with maintenance. The next stage is to analyze six big losses to find the root of the problem at PT. Krakatau Wajatama. Then the proposed improvement based on 8 pillars of TPM, where the focus is Planned Maintenance with the proposal of preventive maintenance, Autonomous Maintenance by making SOP and Trainning for training proposal on the operator on the production floor. The expected value for OEE increase is 12.1% after the TPM approach applied to the Mill.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?