DETAIL KOLEKSI

Kajian kualitas udara ambien dengan low cost sensor Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan


Oleh : Dwicahyo Karunia

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Hernani Yulinawati

Pembimbing 2 : Endro Suswantoro

Subyek : Enviromental management - Air pollution

Kata Kunci : ambient air, CO, NO2, low cost sensor.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_STL_08212017_Halaman-judul.pdf 2890.14
2. 2019_TA_STL_08212017_Bab-1.pdf 134.01
3. 2019_TA_STL_08212017_Bab-2.pdf 226.16
4. 2019_TA_STL_08212017_Bab-3.pdf 485.16
5. 2019_TA_STL_08212017_Bab-4.pdf 1426.61
6. 2019_TA_STL_08212017_Bab-5.pdf 117.94
7. 2019_TA_STL_08212017_Daftar-pustaka.pdf 121.11
8. 2019_TA_STL_08212017_Lampiran.pdf 248.97

J Jakarta sebagai ibukota sekaligus pusat ekonomi membuat laju urbanisasi (pertumbuhan penduduk) yang menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk. Secara tidak langsung membuat frekuensi kemacetan bertambah dan meningkatnya emisi dari kendaraan. Tidak terkecuali di Kecamatan Pancoran, karena banyaknya pembangunan pemukiman di sekitar Kecamatan Pancoran membuat pertumbuhan penduduk menjadi sangat pesat yang memunculkan masalah kemacetan menyebabkan penurunan kualitas udara ambien. Polutan yang perlu diteliti dari emisi kendaraan bermotor adalah karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan konsentrasi CO dan NO2 pada saat bulan puasa dan setelah bulan puasa di Kecamatan Pancoran. Pengukuran kualitas udara ambien menggunakan alatlow cost sensor yang dapat mengukur kualitas udara secara kontinu, yaitu MQ-7 untuk CO dan MQ-135 untuk NO2 yang telah dirancang dengan komponen tambahan sensor suhu, kelembapan, penunjuk waktu dan penyimpanan data. Sensor-sensor tersebut telah melewati uji banding dengan alat Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Jakarta untuk menentukan sensitivitas alat. Pengambilan data dilakukan pada 4 titik sampling dalam 2 tahap, yaitu tahap 1 selama 24 jam dan tahap 2 yang dibagi dalam 3 segmen waktu (pagi, siang dan malam) selama 1 jam pada tiap titik. Masing-masing tahap diambil pada bulan puasa dan setelah bulan puasa. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi CO dan NO2 di bulan puasa sebesar 3,41 mg/m3 dan 21,49 μg/m3, sedangkan konsentrasi rata-rata CO dan NO2 setelah bulan puasa sebesar 3,47 mg/m3 dan 22,77 μg/m3. Konsentrasi CO dan NO2 mengalami peningkatan setelah bulan puasa yang dapat terjadi karena aktivitas penduduk yang lebih sibuk dibanding bulan puasa. Tingkat konsentrasi NO2 dan CO di daerah tersebut dari hasil pengukuran berada di bawah ambang batas baku mutu KepGub DKI Jakarta No. 551-2001 92,5 μg/m3 untuk NO2 dan 9 mg/m3 untuk CO.

J Jakarta as the capital and economic center makes the pace of urbanization (population growth) which causes an increase in population density. Indirectly, the frequency of congestion increases and emissions from vehicles increase. Including in Pancoran Subdistrict, because the large number of residential developments around the Pancoran Subdistrict makes population growth very rapid which raises the problem of congestion causing a decrease in ambient air quality. Pollutants that need to be examined from motor vehicle emissions are carbon monoxide (CO) and nitrogen dioxide (NO2). This study aims to analyze and compare CO and NO2 concentrations during the fasting month and after the fasting month in Pancoran District. The measurement of ambient air quality uses a low cost sensor that can measure air quality continuously, namely MQ-7 for CO and MQ-135 for NO2 which has been designed with additional components of temperature, humidity, timepiece and data storage components. The sensors have passed the comparative test with the Jakarta Regional Environmental Laboratory (LLHD) tool to determine the sensitivity of the tool. Retrieval of data is divided into 4 sample points. Data taken in two methods of retrieval, namely the retrieval of phase 1 data for 24 hours and the retrieval of phase 2 data which are divided into 3 time segments, namely the morning, afternoon and night segments taken at each point for 1 hour. Each stage is taken during the fasting month and after the fasting month. The results showed the average concentrations of CO and NO2 in the fasting month were 3,41 mg/m3 and 21,49 μg/m3, while the average concentrations of CO and NO2 after the fasting month were 3.47 mg/m3 and 22,77 μg/m3. Concentrations of CO and NO2 have increased after the fasting month which can occur due to the activities of residents who are busier than the fasting month. The levels of NO2 and CO concentrations in the area from the measurement results are below the quality standard limits of the DKI Jakarta Governor's Decree No. 551-2001 92,5 μg/m3 for NO2 and 9 mg/m3 for CO.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?