DETAIL KOLEKSI

Pemanfaatan Kotoran Sapi Dan Limbah Kulit Singkong Menjadi Pupuk Organik Dengan Metode Vermicomposting : Studi Kasus Di Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung


Oleh : Astari Dewi Hutami

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Dwi Indrawati

Pembimbing 2 : Ratnaningsih

Subyek : Compost;Fertilizers and manures

Kata Kunci : cow dung, cassava peel waste, organic fertilizer, vermicomposting method


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_STL_082001500009_Halaman-judul.pdf 1232.37
2. 2019_TA_STL_082001500009_Bab-1.pdf 96.47
3. 2019_TA_STL_082001500009_Bab-2.pdf 292.1
4. 2019_TA_STL_082001500009_Bab-3.pdf 637.88
5. 2019_TA_STL_082001500009_Bab-4.pdf 455.62
6. 2019_TA_STL_082001500009_Bab-5.pdf 91.87
7. 2019_TA_STL_082001500009_Daftar-pustaka.pdf 278.21
8. 2019_TA_TL_082001500009_Lampiran.pdf 1434.44

D Di Desa Cibodas, terjadi penumpukan limbah pertanian dalam bentuk kulit singkong karena tidak tersedianya Tempat Pengolahan Limbah (TPS). Selain itu kotoran sapi juga menjadi masalah di desa ini karena sebagian besar kotoran sapi dibuang ke sungai. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan pemanfaatan kotoran sapi dan limbah kulit singkong menjadi pupuk organik menggunakan metode vermicomposting dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses biokonversi limbah, biomassa cacing dan kualitas pupuk yang dihasilkan. Teknologi Vermicompost dalam penelitian ini menggunakan cacing tanah tipe Eudrilus eugeniae. Hasil penelitian ini adalah biokonversi tertinggi pada perlakuan 50% kotoran sapi, 50% kulit singkong dengan nilaibiokonversi sebesar 56% dan merupakan perlakuan pada kepadatan 1,5 kg/m2. Sementara tingkat biokonversi terendah adalah pada perlakuan 30% kotoran sapi,70% kulit singkong dengan nilai biokonversi 38% dan perlakuan pada kepadatan2 kg/m2. Pada pertumbuhan biomassa cacing, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan 50% kotoran sapi, 50% kulit singkong dengan nilai biomassa sebesar147 gram dan merupakan perlakuan kepadatan 2 kg/m2. Sementara tingkat biokonversi terendah adalah pada perlakuan 100% kotoran sapi dengan nilai biomassa sebesar 29 gram dan merupakan perlakuan kepadatan 1,5 kg/m2.

I In Cibodas Village, there was a build-up of agricultural waste in the form of cassava peels due to the unavailability of Waste Management Sites (TPS). Besides cow dung is also a problem in this village because most cow dung is thrown into the river. This study aims to plan the utilization of cow manure and cassava peel waste into organic fertilizer using the vermicomposting method by considering the factors that influence the process of bioconversion of waste, worm biomass and the quality of the fertilizer produced. Vermicompost technology in this study uses an earthworm type Eudrilus eugeniae. The results of this study were the highest bioconversion in the treatment of 50% cow dung, 50% cassava peel with abioconversion value of 56% and a treatment at a density of 1,5 kg/m2. While thelowest bioconversion rate was in the treatment of 30% cow dung, 70% cassava peel with a bioconversion value of 38% and treatment at a density of 2 kg/m2. This shows that stocking density in the composting process of vermicompost affects the process of bioconversion of organic waste into compost. In the growth of worm biomass, the highest value is in the treatment of 50% cow dung, 50% cassava peel with a biomass value of 147 grams and is a density treatment of 2 kg/m2. While the lowest level of bioconversion is in the treatment of 100% cow dung with a biomass 29 grams and a treatment of 1,5 kg/m2 density.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?