DETAIL KOLEKSI

Identifikasi hole problem berdasarkan production variance pada lapangan x


Oleh : Fiorella Natasya Gratia Tonga

Info Katalog

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2025

Pembimbing 1 : Samsol

Pembimbing 2 : Ridha Husla

Kata Kunci : geothermal; production variance; hole problem; scale.

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2025_SK_STP_071002100017_Halaman-Judul.pdf 13
2. 2025_SK_STP_071002100017_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf 1
3. 2025_SK_STP_071002100017_Surat-Hasil-Similaritas.pdf 1
4. 2025_SK_STP_071002100017_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf 1
5. 2025_SK_STP_071002100017_Lembar-Pengesahan.pdf 1
6. 2025_SK_STP_071002100017_Pernyataan-Orisinalitas.pdf 1
7. 2025_SK_STP_071002100017_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf 1
8. 2025_SK_STP_071002100017_Bab-1.pdf 3
9. 2025_SK_STP_071002100017_Bab-2.pdf 14
10. 2025_SK_STP_071002100017_Bab-3.pdf 4
11. 2025_SK_STP_071002100017_Bab-4.pdf 10
12. 2025_SK_STP_071002100017_Bab-5.pdf 1
13. 2025_SK_STP_071002100017_Daftar-Pustaka.pdf 2
14. 2025_SK_STP_071002100017_Lampiran.pdf 3

L Lapangan x merupakan salah satu lapangan panas bumi tertua dan terbesar di indonesia yang berada di kawasan kamojang, jawa barat. lapangan ini menggunakan sistem reservoir dominasi uap (dry steam), yang ditandai dengan produksi fluida dalam bentuk uap kering dari sumur-sumurnya. sejak mulai beroperasi pada tahun 1983, lapangan x telah menjadi sumber utama energi listrik berbasis panas bumi di wilayah tersebut. namun, dalam operasionalnya, seringkali muncul permasalahan teknis pada sumur produksi yang berdampak terhadap kinerja lapangan secara keseluruhan. salah satu permasalahan yang paling umum dijumpai adalah hole problem, yaitu gangguan pada lubang sumur yang menyebabkan penurunan performa produksi, baik dari sisi tekanan maupun laju alir fluida.hole problem dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah akumulasi material padat seperti scale, kerusakan mekanik pada casing, atau gangguan aliran fluida akibat penyempitan lubang sumur. permasalahan ini mengakibatkan terjadinya production variance, yaitu perbedaan mencolok antara laju alir produksi alami (natural) dengan laju produksi aktual yang terekam pada pengujian sumur. variansi ini berpotensi menyebabkan kerugian operasional dan penurunan efisiensi sistem pembangkit jika tidak segera diidentifikasi dan ditangani. oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandidat sumur yang mengalami hole problem serta menentukan apakah sumur tersebut layak untuk dilakukan production variance berdasarkan analisis penurunan produksi.metodologi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap. pertama, dilakukan analisis production variance terhadap tujuh sumur produksi di lapangan x, yaitu ft-11, ft-18, ft-27, ft-36, ft-41, ft-46, dan ft-62. dari hasil analisis awal, tiga sumur menunjukkan penurunan produksi yang signifikan: ft-11, ft-27, dan ft-36. selanjutnya, dilakukan analisis data pressure-temperature-spinner (pts) untuk menentukan zona produksi (feed zone) serta mass rate dari masing-masing sumur. selain itu, dilakukan juga analisis data p-t untuk mengetahui kondisi tekanan dan temperatur reservoir pada kedalaman feed zone. hasil ini dikombinasikan dengan kegiatan dummy survey menggunakan alat caliper log dan go-devil untuk mendeteksi keberadaan penyumbatan di dalam lubang sumur. dari hasil tersebut, ditemukan bahwa ketiga sumur mengalami stuck pada kedalaman tertentu akibat scale.untuk memperkuat hasil, dilakukan simulasi wellbore menggunakan perangkat lunak swelflo. simulasi ini bertujuan untuk memperoleh output curve, yaitu kurva hubungan antara tekanan kepala sumur dan laju alir fluida. dengan membandingkan output curve natural (sebelum scale) dan output curve aktual (setelah scale), diperoleh data selisih laju alir yang digunakan untuk menghitung potensi peningkatan produksi jika dilakukan production variance. berdasarkan hasil simulasi, sumur ft-11 mengalami penurunan produksi dari 18,99 kg/s menjadi 7,82 kg/s (setara 5,03 mw), sumur ft-27 turun dari 27,37 kg/s menjadi 8,62 kg/s (setara 8,44 mw), dan sumur ft-36 turun dari 26,24 kg/s menjadi 18,45 kg/s (setara 3,4 mw).dari hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketiga sumur (ft-11, ft-27, dan ft-36) merupakan kandidat kuat terjadinya hole problem yang disebabkan oleh scale, dan semuanya layak untuk dilakukan tindakan production variance karena menghasilkan peningkatan produksi yang melebihi nilai ambang kelayakan (≥1 mw) sesuai standar perusahaan.penelitian ini membuktikan bahwa metode analisis berbasis production variance, dikombinasikan dengan data pts, p-t, dummy survey, dan wellbore simulation menggunakan swelflo, merupakan pendekatan yang efektif untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi hole problem pada sumur panas bumi. hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam strategi pengelolaan lapangan panas bumi secara efisien dan berkelanjutan.kata kunci: panas bumi; production variance; hole problem; scale.

F Field x is one of the oldest and largest geothermal fields in indonesia, located in the kamojang area, west java. this field uses a dry steam-dominated reservoir system, characterized by the production of dry steam from its wells. since it began operating in 1983, field x has served as a major source of geothermal-based electricity in the region. however, throughout its operation, technical issues frequently arise in production wells, which impact the overall performance of the field. one of the most common problems encountered is the hole problem, a disturbance within the wellbore that causes a decline in production performance, both in terms of pressure and fluid flow rate.the hole problem can be caused by several factors, including the accumulation of solid materials such as scale, mechanical damage to the casing, or flow disturbances due to narrowing of the wellbore. this issue results in production variance, which is a significant difference between the natural flow rate and the actual production rate recorded during well testing. such variance can lead to operational losses and decreased power plant efficiency if not promptly identified and addressed. therefore, this study aims to identify candidate wells experiencing hole problems and determine whether those wells are suitable for hole cleaning based on an analysis of production decline.the methodology used in this study consists of several stages. first, a production variance analysis was conducted on seven production wells in field x: ft-11, ft-18, ft-27, ft-36, ft-41, ft-46, and ft-62. from the initial analysis, three wells—ft-11, ft-27, and ft-36—were found to have experienced significant production decline. next, a pressure-temperature-spinner (pts) data analysis was performed to determine the feed zone and mass rate for each well. in addition, a p-t data analysis was conducted to identify the pressure and temperature conditions of the reservoir at the feed zone depth. these findings were combined with a dummy survey using caliper log and go-devil tools to detect blockages inside the wellbore. the results showed that all three wells experienced blockage (stuck) at specific depths due to scale.to further validate the results, a wellbore simulation was carried out using swelflo software. the purpose of the simulation was to generate an output curve, which illustrates the relationship between wellhead pressure and fluid flow rate. by comparing the natural output curve (before scale) with the actual output curve (after scale), differences in flow rates were identified and used to estimate the potential increase in production if hole cleaning were performed. based on the simulation results, well ft-11 experienced a production drop from 18.99 kg/s to 7.82 kg/s (equivalent to 5.03 mw), ft-27 declined from 27.37 kg/s to 8.62 kg/s (equivalent to 8.44 mw), and ft-36 dropped from 26.24 kg/s to 18.45 kg/s (equivalent to 3.4 mw).based on this analysis, it can be concluded that the three wells (ft-11, ft-27, and ft-36) are strong candidates for experiencing hole problems caused by scale, and all are considered feasible for hole cleaning, as the production gain from cleaning exceeds the company’s minimum viability threshold of 1 mw.this study demonstrates that an analytical approach based on production variance, combined with pts data, p-t profiles, dummy survey results, and wellbore simulation using swelflo, is an effective method for identifying and evaluating hole problems in geothermal wells. the results of this research are expected to contribute meaningfully to strategies for efficient and sustainable geothermal field management.keywords: geothermal; production variance; hole problem; scale.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?