DETAIL KOLEKSI

Penerapan metode six sigma dan data mining pada proses produksi member sub-assy main floor side rh bz050 di PT. Gaya Motor


Oleh : Melida Leviani

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Pembimbing 1 : Parwadi Moengin

Pembimbing 2 : Rahmi Maulidya

Subyek : Inventory control;Steel industry and trade

Kata Kunci : economic production quantity (epq), backorder, scrap, epq backorder, epq scrap

Status Posting : Published

Status : Tidak Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2014_TA_STI_06310126_Halaman-Judul.pdf
2. 2014_TA_STI_06310126_Lembar-Pengesahan.pdf
3. 2014_TA_STI_06310126_Bab-1_Pendahuluan.pdf
4. 2014_TA_STI_06310126_Bab-2_Tinjauan-Pustaka.pdf
5. 2014_TA_STI_06310126_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf
6. 2014_TA_STI_06310126_Bab-4_Pengumpulan-Data.pdf
7. 2014_TA_STI_06310126_Bab-5_Pengolahan-Data-dan-Analisis-Hasil.pdf
8. 2014_TA_STI_06310126_Bab-6_Usulan-Perbaikan.pdf
9. 2014_TA_STI_06310126_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf
10. 2014_TA_STI_06310126_Daftar-Pustaka.pdf
11. 2014_TA_STI_06310126_Lampiran.pdf

P PT. Krakatau Wajatama adalah sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang industri baja. Perusahaan menghasilkan 2 jenis produk yaitu Baja Tulangan dan Baja Profil. Penelitian pada PT. Krakatau Wajatama dilakukan pada pabrik Baja Tulangan dengan produk Baja Tulangan Sirip tipe S-13, S-16, S-19, dan S-25. Permasalahan pada PT. Krakatau Wajatama saat ini adalah perusahaan belum menggunakan sistem pengendalian persediaan yang optimal, khususnya persediaan barang jadi. Hal ini menyebabkan kekurangan persediaan barang jadi sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen. Dalam hal ini perusahaan melakukan tindakan backorder. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan perbaikan pengendalian persediaan produk jadi dengan model persediaan Economic Production Quantity (EPQ) backorder dengan mempertimbangkan adanya scrap hasil produksi agar dapat memenuhi permintaan konsumen. Pertimbangan adanya scrap tersebut dilakukan karena scrap sangat mempengaruhi terjadinya kekurangan jumlah produk jadi pada perusahaan.Pada penelitian ini menggunakan 2 jenis model persediaan yaitu EPQ dengan kondisi tidak mengalami backorder dan tidak memperhatikan scrap dan EPQ dengan kondisi backorder dan memperhatikan adanya scrap. Kondisi perusahaan saat ini memiliki total biaya sebesar Rp 115,473,073,913. Hasil yang diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan 2 jenis model persediaan ini adalah model EPQ tanpa terjadinya kondisi backorder dan tidak adanya scrap memiliki total biaya yang sebesar Rp 109,266,686,000,- selama 3 bulan, dengan jumlah produksi optimal produk S-13 yaitu 524,81 ton per siklus, produk S-16 yaitu 553,09 ton per siklus, produk S-19 yaitu 544,44 ton per siklus, dan produk S-25 yaitu 384,44 ton per siklus. Dimana panjang tiap siklus adalah 11 hari, dengan jumlah siklus selama 3 bulan adalah 8,1 siklus.Model EPQ dengan kondisi backorder dan mempertimbangkan adanya scrap memiliki total biaya Rp 110,797,310,182,- selama 3 bulan, dengan jumlah produksi optimal produk S-13 yaitu 602,37 ton per siklus, produk S-16 yaitu 633,22 ton per siklus, produk S-19 yaitu 626,8 ton per siklus, dan produk S-25 yaitu 440,81 ton per siklus. Dengan panjang tiap siklus adalah 13 hari dan jumlah siklus selama 3 bulan adalah 7 siklus. Adapun jumlah backorder optimal pada produk S-13 yaitu 2,63 ton per siklus, produk S-16 yaitu 3,85 ton per siklus, produk S-19 yaitu 11,31 ton per siklus, dan produk S-25 yaitu 20,76 ton per siklus.Model EPQ tanpa kondisi backorder dengan mempertimbangkan scrap memiliki total biaya yang sebesar Rp 123,914,479,044,- selama 3 bulan, dengan jumlah produksi optimal produk S-13 yaitu 1773,18 ton per siklus, produk S-16 yaitu 1659,84 ton per siklus, produk S-19 yaitu 1014,55 ton per siklus, dan produk S-25 yaitu 548,61 ton per siklus. Dengan lama periode produksi adalah 86-87 hari.Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, apabila perusahaan menerapkan metode EPQ dengan kondisi tidak mengalami backorder tetapi tidak memperhatikan scrap, maka perusahaan akan mendapatkan biaya tambahan jika terdapat adanya scrap. Apabila perusahaan menggunakan metode EPQ dengan kondisi backorder dan memperhatikan scrap, maka perusahaan akan mengeluarkan total biaya tanpa adanya biaya tambahan lain. Sedangkan, apabila menggunakan EPQ tanpa backorder dengan scrap, total biaya yang dikeluarkan telah mempertimbangkan adanya scrap dan tidak ada biaya backorder.Pada penelitian ini dilakukan analisa sensitivitas perubahan biaya simpan dan biaya setup terhadap total biaya. Hasil menunjukkan bahwa perubahan kenaikan dan penurunan biaya simpan dan biaya setup berbanding lurus dengan total biaya. Apabila biaya-biaya tersebut naik, maka total biaya yang dikeluarkan juga bertambah, begitu pula sebaliknya.

P PT. Krakatau Wajatama is one of manufacturing company work in steel industry. The company produces two types of products, which are Bar Mill and Section Mill. Research on PT. Krakatau Wajatama focused on bar mill factory, that is produces 4 types of bar mill, which are bar mill with type S-13, S-16, S-19, and S-25. Problems in PT. Krakatau Wajatama is the company not using optimal inventory control system yet, especially finished good inventory. It is the lack of inventory of finished goods that caused the company can not meet customer demand. In this case, the company will doing backorder. The purpose of this research is to improved inventory control of finished product with Economic Production Quantity (EPQ) model with backorder condition and considering the presence of scrap production in order to meet customer demand. Consideration of the scrap because scrap greatly affect the occurrence of a shortage of finished products at the company.In this study using two types of inventory model, namely EPQ without backorder and the absence of scrap and EPQ with backorder condition and considering the presence of scrap. Currently, total cost of the company is Rp 115,473,073,913,-. The results obtained from the calculation of this research are EPQ inventory model without backorder condition and the absence of scrap has total cost of Rp 109,266,686,000,- for 3 months, the number of optimal production S-13 product is 524,81 tons per cycle, the product S-16 is 553,09 tons per cycle, the product S-19 is 544,44 tons per cycle, and the product S-25 is 384,44 tons per cycle. Where the length of each cycle is 11 days, the number of cycles for 3 months is 8.1 cycles. EPQ with backorder condition and considering the presence of scrap has total cost of Rp 110,797,310,182,- for 3 months, with the number of optimal production S-13 product is 602,37 tons per cycle, the product S-16 is 633,22 tons per cycle, the product S-19 is 626,8 tons per cycle, and the product S-25 is 440,81 tons per cycle. The length of each cycle is 13 days, the number of cycles for 3 months is 7 cycles. The number of optimal backorder S-13 product is 2,63 tons per cycle, the product S-16 is 3,85 tons per cycle, the product S-19 is 11,31 tons per cycle, and the product S-25 is 20,76 tons per cycle.EPQ model without backorder condition and considering the presence of scrap has total cost of Rp 123,914,479,044,- for 3 months, with the number of optimal production S-13 product is 1773,18 tons per cycle, the product S-16 is 1659,84 tons per cycle, the product S-19 is 1014,55 tons per cycle, and the product S-25 is 548,61 tons per cycle. The length of production period is 86-87 days.Based on the results of these calculations, when the company implemented EPQ method without backorder condition and the absence of scrap production, then the company will earn an additional cost if there is any scrap. If the company uses EPQ method with backorder condition and the presence of scrap, the company will still be issued in accordance without any additional cost. If the company uses EPQ model without backorder condition and considering the presence of scrap, the total cost has considering about the scrap and the company has not backorder cost.In this study conducted a sensitivity analysis of changes holding cost and setup costs to total costs. The results showed that the change in the increase and decrease in holding cost and setup cost is directly proportional to the total cost. If these costs go up, then the total cost also increases, and otherwise.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?