DETAIL KOLEKSI

Usulan perbaikan untuk meminimasi pengaruh tingkat kebisingan terhadap kelelahan kerja dan beban kerja mental operator pembuatan kain tenun (grey) di PT. Kurabo Manunggal Textile


Oleh : Sixsirez Nur Saecio Rima

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2020

Pembimbing 1 : Nora Azmi

Subyek : Noise pollution;Fatigue;Work - Physiological aspects

Kata Kunci : noise, work fatigue (reaction timer test), mental workload (nasatlx), pearson correlation, work rota


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2020_TA_STI_063001500039_Halaman-Judul.pdf 916.31
2. 2020_TA_STI_063001500039_Lembar-Pengesahan.pdf 1718.21
3. 2020_TA_STI_063001500039_Bab-1_Pendahuluan.pdf 158.62
4. 2020_TA_STI_063001500039_Bab-2_Tinjauan-Pustaka.pdf 10278.88
5. 2020_TA_STI_063001500039_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf 893.44
6. 2020_TA_STI_063001500039_Bab-4_Analisis-dan-Pembahasan.pdf 15301.6
7. 2020_TA_STI_063001500039_Bab-5_Kesimpulan.pdf 127.18
8. 2020_TA_STI_063001500039_Daftar-Pustaka.pdf 139.4
9. 2020_TA_STI_063001500039_Lampiran.pdf 9637.87

P PT. Kurabo Manunggal Textile merupakan sebuah perusahaan manufaktur yangmemproduksi benang dan kain tenun (grey). Berdasarkan hasil wawancara,operator merasakan kelelahan dan kurang fokus saat bekerja dikarenakan pekerjaanyang dilakukan secara berulang-ulang, tingginya tingkat ketelitian serta target yangharus dicapai diduga menimbulkan beban kerja mental yang tinggi. Selain itu,dilakukan pengisian kuisioner NASA-TLX terhadap 5 operator, ditemukan adanyabeban kerja mental yang cukup tinggi. Disamping itu, terdapat tingkat kebisinganyang cukup tinggi. Tingginya tingkat kebisingan dikarenakan mesin pada bagianweaving selalu menyala selama 24 jam. Dengan adanya permasalahan tersebutdiperlukan adanya pengukuran kelelahan kerja dan beban kerja mental yang dialamioperator. Pengukuran kelelahan kerja dilakukan dengan Reaction Timer Testsedangkan pengukuran beban kerja mental dilakukan dengan metode NASA-TLX.Kedua pengukuran tersebut dilakukan terhadap 30 orang operator kain tenun (grey)dari 3 bagian proses produksi yaitu bagian pencucukan, finishing dan weaving.Hasil penelitian diketahui tingkat kebisingan 3 bagian proses produksi tersebutsebesar 82.7dB – 101.6dB. Tingginya paparan kebisingan yang diterima dapatberdampak pada kesehatan operator dan diduga menjadi salah satu faktor yangmempengaruhi adanya kelelahan kerja dan beban kerja mental yang dirasakanoperator. Hasil pengukuran kelelahan kerja menunjukkan 9 operator mengalamiKelelahan Kerja Sedang dan 21 operator mengalami Kelelahan Kerja Berat.Sedangkan hasil pengukuran beban kerja mental memiliki rata-rata WWL sebesar74.3 nilai tersebut menunjukkan bahwa operator merasakan beban kerja mentalyang tinggi. Selanjutnya dilakukan uji korelasi Pearson untuk melihat hubunganantara tingkat kebisingan dengan kelelahan kerja dan beban kerja mental. Hasil ujikorelasi Pearson menunjukkan bahwa tingkat kebisingan memiliki hubungan yangsignifikan (p-value < 0.05) terhadap kelelahan kerja dengan koefisien korelasi (r) =0.367 yang menyatakan kekuatan hubungan keduanya bersifat lemah dan hasil ujikorelasi pearson untuk tingkat kebisingan dengan beban kerja mental dengankoefisien korelasi (r) = 0.618 yang menyatakan kekuatan hubungannya bersifatkuat. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kebisingan berpengaruhterhadap kelelahan kerja dan beban kerja mental yang dirasakan operator. Usulanyang diberikan yaitu dengan melakukan rotasi kerja operator pencucukan ke bagianfinishing dan weaving serta sebaliknya dan pemakaian earmuff, yang mengurangidosis kebisingan rata-rata 819.23 menjadi 116.34.

P PT. Kurabo Manunggal Textile is a manufacturing company that produces yarn andgrey fabric. Based on the results of interviews, operators feel fatigue and lack offocus when working due to work done repeatedly, high levels of accuracy andtargets to be achieved are thought to cause high mental workload. In addition,carried out by filling the NASA-TLX questionnaire to 5 operators, found a mentalworkload that is quite high. In addition, there is a fairly high noise level. High noiselevels due to the engine in the weaving section always running for 24 hours. Withthese problems required the measurement of work fatigue and mental workloadexperienced by the operator. The measurement of work fatigue is done by theReaction Timer Test while the measurement of mental workload is done by theNASA-TLX method. Both measurements were carried out on 30 operators of greyfabric from 3 parts of the production process, namely the reaching, finishing andweaving section. The results of the research revealed that the noise level of 3 partsof the production process was 82.7dB - 101.6dB. The high noise exposure receivedcan have an impact on operator health and is thought to be one of the factors thatinfluence the existence of work fatigue and mental workload felt by the operator.The work fatigue measurement results show 9 operators experiencing ModerateWork Fatigue and 21 operators experiencing Heavy Work Fatigue. While theresults of mental workload measurements have an average WWL of 74.3. The valueindicates that the operator feels a high mental workload. Then Pearson correlationtest is performed to see the relationship between noise level with work fatigue andmental workload. The results of the Pearson correlation test indicate that the noiselevel has a significant relationship (p-value < 0.05) to work fatigue with thecorrelation coefficient (r) = 0.367 which states the strength of the relationship isboth weak and the Pearson correlation test results for the noise level with mentalworkload with the correlation coefficient (r) = 0.618 which states the strength ofthe relationship is strong. From these results it can be concluded that noise affectswork fatigue and mental workload perceived by the operator. The proposal givenwith the work rotation of the reaching operator to finishing and weaving sectionand vice versa and using earmuffs, which reduce the average noise dose from819.23 to 116.34.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?