DETAIL KOLEKSI

Hubungan frekuensi konsumsi makanan instan dan minuman berenergi dengan prevalensi karies pada usia 15–24 Tahun : analisis Riskesdas 2018 di Jawa Barat


Oleh : Fadila Hanoum Nurifai

Info Katalog

Nomor Panggil : 614 FAD h

Penerbit : FKG - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2021

Pembimbing 1 : Tiarma Talenta Theresia

Pembimbing 2 : Goalbertus

Subyek : Dental caries

Kata Kunci : instant food, energy drink, caries prevalence, DMF-T


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2021_TA_KG_040001700054_Halaman-Judul.pdf 317.48
2. 2021_TA_KG_040001700054_Lembar-Pengesahan.pdf 640.49
3. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-1-Pendahuluan.pdf 154.1
4. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-2_Tinjauan-Pustaka.pdf 229.84
5. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-3_Kerangka-Teori,-Kerangka-Konsep,-Hipotesis.pdf 154.03
6. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-4_Metodologi-Penelitian.pdf 265.33
7. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-5_Hasil-Penelitian.pdf 238.24
8. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-6_Pembahasan.pdf 163.62
9. 2021_TA_KG_040001700054_Bab-7_Kesimpulan-dan-Saran.pdf 145.02
10. 2021_TA_KG_040001700054_Daftar-Pustaka.pdf 183.32
11. 2021_TA_KG_040001700054_Lampiran.pdf 2393.83

L Latar belakang: Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 menunjukkan provinsi Jawa Barat memiliki masalah gigi karies paling tinggi (45,66%) bahkan lebih tinggi dari rata-rata nasional (45,3%). Peningkatan persentase yang bermasalah dengan karies di masyarakat bisa disebabkan kebiasaan buruk mengonsumsi makanan instan dan minuman berenergi yang dapat memicu kondisi asam di dalam mulut. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi makanan instan dan minuman berenergi dengan prevalensi karies pada usia 15–24 tahun di Jawa Barat tahun 2018. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder RISKESDAS 2018. Hasil: Dari uji chi-square didapatkan nilai p-value = 0,568 berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi minuman berenergi dan prevalensi karies nilai DMF-T sedangkan hubungan antara frekuensi konsumsi makanan instan dan prevalensi karies nilai DMF-T dengan nilai p-value = 0,349 juga tidak ada hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Frekuensi konsumsi makanan instan dan minuman berenergi tidak hanya menjadi satu-satunya faktor yang menentukan terjadinya karies.

B Background: Basic Health Research (RISKESDAS) 2018 shows West Java province has the highest dental caries problem (45.66%) even higher than the national average (45.3%). The increase in the percentage of people who have problems with caries in the community caused by bad habits of consuming instant food and energy drinks that can trigger acidic conditions in the mouth. Objective: To determine the relationship between the frequency of consumption of instant food and energy drinks with the prevalence of caries at the age of 15–24 years in West Java in 2018. Methods: This type of research is an analytical observational with design cross-sectional. This study uses secondary data from RISKESDAS 2018. Results: From chi-square test, p-value of 0.568 means that there is no significant relationship between the frequency of consumption of energy drinks and the prevalence of caries, the DMF-T value, while the relationship between the frequency of consumption of instant food and the prevalence of caries is DMF-T with p-value of 0.349 also has no significant relationship. Conclusion: Frequency of consumption of instant food and energy drinks is not the only factor that determines the occurrence of caries.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?