DETAIL KOLEKSI

Efektivitas ekstrak terung belanda (cyphomandra betacea sendtn) terhadap pertumbuhan candida albicans


Oleh : Neysa Setiawan

Info Katalog

Nomor Panggil : 616.07 NEY e

Penerbit : FKG - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Janti Sudiono

Subyek : Dentistry - Candida albicans

Kata Kunci : tamarillo (Cyphomandra betacea Sendtnj, candida albicans, ethanol extract, antifungal, nystatin.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_KG_040001500123_Halaman-judul.pdf 3173.72
2. 2019_TA_KG_040001500123_Lembar-pengesahan.pdf 1189.62
3. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-1-Pendahuluan.pdf 1361.1
4. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-2-Tinjauan-pustaka.pdf 2926.01
5. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-3-Kerangka-teori,-konsep,-dan-hipotesis.pdf 988.7
6. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-4-Metode-penelitian.pdf 2323.45
7. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-5-Hasil-penelitian.pdf 1648.69
8. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-6-Pembahasan.pdf 1546.88
9. 2019_TA_KG_040001500123_Bab-7-Kesimpulan-dan-saran.pdf 728.66
10. 2019_TA_KG_040001500123_Daftar-pustaka.pdf 2118.96
11. 2019_TA_KG_040001500123_Lampiran.pdf 3534.48

L Latar Belakang: : Antifungal merupakan obat utama yang banyak digunakan untuk mengobati infeksi mikrobial. Namun penggunaan obat antifungal sintetik memitiki kelemahan seperti efek resistensi dan efek samping. Oleh karena itu, diperlukan obat antifungal berbahan alam yang dapat dijadikan bahan altematif untuk menghindari hal tersebut. Berdasarkan uji fitokimia, ekstrak etanol terung Belanda (Cyphomandrci betacea Sendtnj memiliki senyawa metabolit sekunder seperti: alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, triterpenoid,dan glikosida. Oleh karena itu diduga senyawa metabolit sekunder di dahtm terung Behmda berpotcnsi sebagai antijamur.Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas ekstrak terung Belanda terhadap C.albicans secara in vitro. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian ekperimental laboratorium dengan desain rancangan penelitian cross sectional. Ekstrak buah terung Belanda diencerkan menggunakan akuades sehingga terdiri dari konsentrasi; 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100%. Cawan petri yang terdapat SabouraudDextrose Agar diratakan dengan biakan jamur yang telah terstandarisasi 5.0 Me Farland. Setiap cawan petri dibuat sumuran dan ditetes ekstrak dengan berbagai konsentrasi, akuades steril sebagai kontrol negatif, dan nistatin sebagai kontrol positif. Kultur diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Zona hambat yang terbentuk di sekitar sumuran diukur menggunakan jangka sorong dengan satuan mm. Data penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji one-way Anova dan Post hoc. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ekstrak terung Belanda memiliki peran dalam menghambat pertumbuhan C.albicans. Konsentrasi 6,25% membentuk zona hambat sebesar 4,67mm, 12,5% membentuk zona hambat sebesar 6,85mm, 25% membentuk zona hambat sebesar 13,7mm, 50% membentuk zona hambat sebesar 25,1mm, dan 100% membentuk zona hambat sebesar 19,6 mm.Kesimpulan: Konsentrasi optimum terung Belanda dalam menghambat pertumbuhan C.albicans pada 50% sebesar 25,1 mm, dan konsentrasi minimum ekstrak terung Belanda dalam menghambat c.albicans terdapat pada 25% dengan 13,7 mm. Daya antijamur pada esktrak buah terung Belanda diduga disebabkan senyawa metabolit sekunder yang terkandung.

B Background: Antifungal provide the mains basis for the theraphy of microbial infections. However, synthetic antifungal have many weakness such as resistance and side effects, this has necessitated a search for new antifungal substances from natural sources specially medicinal plants. Based on phytochemical analysis of ethanol Tamarillo fruit (Cyphomandra betacea Sendtn) extracts revealed the presence of alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, triterpenoid, and glicoside. This chemicals expected to has antifungal capability. Objective: To investigate the antifungal effects of the ethanol extract in Tamarillo fruit against Candida albicans. Method: This study was a laboratory experimental method with cross sectional design. Subject was ethanol extract of Tamarillo fruit. The Tamarillo extracts were dissolved in aquades to make final extract concentration: 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, and 100%. The Sabouraud Dextrose Agar was smeared with fungal culture that has been standardized with 5.0 Me Farland. Each well was filled with various concentrations, sterile distilled water as the negative control, and nystatin as the positive control. The plates were incubated at 37°C for 24 h. The presence of a clear zone around the well is measured with meter rule in millimeter. This study data were statistically analyzed using one-way Anova and Post Hoc. Result: The results showed that the extract of Tamarillo fruit has the antifungal activity against C.albicans such as 6,25% with 4,67mm growth inhibition, 12,5% with 6,85mm growth inhibition, 25% with 13,7 mm growth inhibition zone, 50% with 25,1 mm growth inhibition zone, and 100% with 19,6 mm growth inhibition zone. Conclusion: Tamarillo extract at concentration 50% was found to given the most potent antifungal extract with maximum inhibition zone size which is 25,1 mm in isolate C.albicans whereas at concentration 25% showed minimum antifungal activity with inhibit km zone size which is 13,7 mm. This activity may be as indicated by its secondary compound.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?