DETAIL KOLEKSI

Pengaruh penambahan inokulan EM4 (Effective Mikroorganisme 4) pada proses pengomposan aerob dan anaerob sampah organik di Bumi Serpong Damai

0.0


Oleh : Ainun Reniamanik

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2002

Pembimbing 1 : Setijati H. Ediyono

Pembimbing 2 : Widyo Astono

Subyek : Waste products as fuel

Kata Kunci : composting system, organic waste, aerob,


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2002_TA_STL_08295004_Halaman-Judul.pdf 1201.19
2. 2002_TA_STL_08295004_Lembar-Pengesahan.pdf 877.45
3. 2002_TA_STL_08295004_Bab-1_Pendahuluan.pdf 781.97
4. 2002_TA_STL_08295004_Bab-2_Tinjauan-Pustaka.pdf 2417.54
5. 2002_TA_STL_08295004_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf 1651.23
6. 2002_TA_STL_08295004_Bab-4_Hasil-Penelitian....pdf 2302.45
7. 2002_TA_STL_08295004_Bab-5_Kesimpulan-dan-Saran.pdf 684.1
8. 2002_TA_STL_08295004_Daftar-Pustaka.pdf 684.5
9. 2002_TA_STL_08295004_Lampiran.pdf 4790.77

S Salah satu cara untuk mengatasi masalah persampahan terutama sampah organik adalah dengan pengomposan. Kompos menurut CPIS (1992) adalah bentuk akhir dari bahan — bahan organik setelah mengalami dekomposisi. Namun pengomposan secara alami membutuhkan waktu + 6 bulan lamanya. Dengan pengaturan kondisi lingkungan (suhu, kelembaban, aerasi dan agitasi) serta penambahan inokulan EM, maka proses pengomposan dapat dipercepat menjadi 1-2 bulan saja. Dengan waktu yang relatif tingkat ini masalah timbulan sampah yang menumpuk dapat dengan cepat tertangani sehingga tidak mencemari lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan bahan baku organik yang terdiri dari sampah organik, rumput dan kotoran sapi dengan perbandingan berat 200 kg 50 kg : 5 kg sehingga berat total untuk satu tumpukan 255 kg. Berdasarkan komposisi bahan baku diatas diperoleh C/N awal pengomposan 26. Tumpukan divariasikan menjadi 4 perlakuan, yang dibagi menjadi 2 sistem pengomposan yaitu aerob dan anaerob dengan masing-masing dilengkapi dengan perlakuan kontrol. Pada pengomposan dengan sistem aerob tumpukan diletakan di atas terowongan bambu dan untuk sistem anaerob tumpukan ditutup dengan terpal. Selama proses pengomposan parameter yang diamati adalah perubahan suhu, kelembaban, pH, rasio CfN, kandungan amonium dan nitrat. Kematangan kompos dapat dilihat dari hasil pengukuran parameter dimana rasio C/N yang menurun, kadar NO, yang meningkat, dan kadar NH yang menurun. Di akhir penelitian diharapkan dapat diketahui pengaruh penambahan inokulan EM4 terhadap laju dekomposisi dari kedua sistem tersebut.Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengomposan dengan menggunakan EM aerob memiliki waktu yang lebih singkat dalam rnendekomposisi bahan organik yang ada. Proses pengomposan hanya memakan waktu 23 hari saja. Penggunaan terowongan bambu dengan ukuran 1,0 x 1,5 x 1,5 meter pada sistem aerob memberikan pengaruh yang nyata dalam membantu proses pengomposan. Dengan adanya terowongan bambu pasokan oksigen merata dalam tumpukan, menjaga suhu tetap ideal 40°C-50oC untuk pengomposan EM4 dimana mikroorganisme EM, efektif bekerja pada suhu tersebut . Sedangkan pengomposan dengan menggunakan EMS anaerob waktu pengomposannya 52 hari, laju dekomposisinya lebih lambat 29 hari dari pengomposan EM aerob. Namun hasil mutu kompos untuk kedua sistem tersebut tidak jauh berbeda dengan mutu kompos metode UDPK. Berdasarkan penelitian, hasil mutu kompos EM aerob komposisi kadar air : 40,62%; C-organik : 25,01%; Nitrogen (N) : 2,42%; Phospat (P) : 0,28%; Kalium (K) . 0,63%; dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) : 39,25% meq/100 gr bahah organik. Sedangkan untuk hasil mutu kompos EMS anaerob komposisi kadar air : 45,13%; C-organik : 23,18%; Nitrogen (N) : 2,54%; Phospat (P): 0,28%; Kalium (K) : 0,55%« dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) : 40,67 meq/100gr bahan organik.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses pengomposan dengan penambahan inokulan EQ sistem aerob dengan menggunakan terowongan bambu dapat mempercepat laju dekomposisi bahan organik, dengan hasil mutu kompos tidak jauh berbeda mutu kompos UDPK.

O One of ways to overcome the solid waste problem primarily the organic waste is the composting way. Compost according to CPIS (1992) is the end product of organic materials after being decomposed. Nevertheless, natural composting needs 6 months period. With environment conditionings (temperature, humidity, aeration, agitation) and EM inoculant addition, composting process can be accelerated into 1-2 months period. With the relatively shorter period, solid waste problem can be handled promptly so it won’t pollute the environment and will have the economic value. The experiments were carried out using organic ingredient such as organic waste, grass, and cow waste with mass ratio 200 kg : 50 kg : 5 kg and with the total mass for each set 255 kg. According to the ingredient composition above, the rasio C/N precomposting is 26. The sets were varied into 4 treatment, divided into 2 composting system, aerobe and anaerobe, each was facilitated with control treatment. In aerobe system composting, the set of ingredient was placed on the bamboo tuiuiel and for anaerobe system, the set of ingredient was covered with plastic. During composting process, the parameters tested in this experiments were temperature changing, humidity, pH, C/N rasio, ammonium and nitrate consentration. Composting maturity can be seen through the parameter measurement where the C/N rasio decreased, NO, concentration increased, and NH4 concentration decreased. In the end of experiment, it was expected to see the influence of EM4 inoculant addition on the decomposition rate from both systems. From the experiment result, it can be obtained that composting using EM -aerobe has the shorter period of time in decomposing the organic waste. The composting process only takes 23 days of time. The use of bamboo tunnel with the size of 1,0 x 1,5 x 1,5 meter on aerobe system gives a real effect in composting process. With the bamboo tunnel available, the oxygen input can disperse throughout the set of pile, keeping the ideal temperature 40°C-50°C constantly for E$ 4 composting where the microorganisms in EM, works effectively in those temperature range. While anaerobe EM, composting, composting time was 52 days, the decomposition rate was slower 29 days than EMS aerobe composting. However, compost quality result for both systems were not so much different from compost quality UDPK method. Based on the experiment, compost quality result for EMa aerobe, the water content : 40,62 %; C-Organic : 25,01 %; Nitrogen (N) : 2,42%; Phosphate (P) : 0,28%; Kalium (K) : 0,63%; and Kation Exchange value (KEV) : 39,25% meq/100 gr. organic material. Furthermore, the compost quality result for EM, composting anaerobe, the water content : 45,13%; C-organic : 23,18%; Nitrogen {N) : 2,54%; Phosphate (P): 0,28%; Kalium (K) : 0,55% and Kation Exchange Value (KEV) : 40,67 meq/l00gr organic material. From the experiment result, it can be concluded that the composting process with addition of EM inoculant aerobe system,using bamboo tunnel can accelerate the decomposition rate of organic materials, with the compost quality result is not much different from compost quality of UDPK.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?