DETAIL KOLEKSI

Model pengukuran beban kerja fisik dan mental operator Transjakarta untuk meningkatkan keselamatan sistem transportasi jalan raya : tahun ke 2 dari rencana 3 tahun


Oleh : Nora Azmi, Pudji Astuti, Dian Mardi Safitri

Info Katalog

Penerbit : Lemlit - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2015

Subyek : Human engineering;Work environment;Work - Psychological aspects

Kata Kunci : physical workload, mental workload, human error, design the cabin bus, Fuzzy NASA-TLX


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_1.pdf 10559.14
2. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_2.pdf 4603.74
3. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_3.pdf 29628.25
4. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_4.pdf 1625.52
5. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_5.pdf 33833.97
6. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_6.pdf 33704.12
7. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_7.pdf 35415.95
8. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_8.pdf 6129.53
9. 2015_LP_TI_Model-Pengukuran-Beban_9.pdf 7943.6

S Sistem transportasi masal Transjakarta masih dihadapkan dengan persoalan tingginya tingkat kecelakaan yang disebabkan oleh human error pengemudinya. Human error disebabkan oleh beberapa hal, dimana salah satunya adalah beban kerja yang berlebih. Untuk itu pada penelitian ini dilakukan pengukuran beban kerja fisik dan mental untuk melihat apakah terdapat kelebihan beban kerja pada pengemudi Transjakarta. Pengukuran beban kerja fisik dilakukan sebagai lanjutan dan perbaikan dan penelitian tahun pertama yang dilakukan pada koridor 2. Metode pengukuran beban kerja fisik dikembangkan menjadi pengukuran denyut jantung yang dikonversi menjadi konsumsi energi menggunakan model persamaan Tinier dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik fisik responden. Karakteristik fisik yang dipertimbangkan yaitu usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, dan lama bekerja. Pengukuran beban kerja mental dilakukan dengan menggunakan model TI fuzzy NASA-TLX yang telah dikembangkan pada tahun pertama. Model ini kembali digunakan pada koridor 9 yang menjadi objek penelitian pada tahun kedua ini karena masih membutuhkan implementasi yang lebih luas untuk membuktikan keefektivannya. Hasil pengukuran beban kerja fisik dan mental pada koridor 9 Transjakarta digunakan untuk merancang waktu kerja dan waktu istirahat. Di sisi lain, upaya untuk mereduksi human error juga dilakukan dengan merancang strategi untuk mereduksi error menggunakan metode Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART). Upaya untuk meningkatkan kenyamanan pengemudi dilakukan dengan mendisain suatu rancangan kabin bis yang mempertimbangkan kebutuhan dan aspek ergonomis pengemudi. Dan hasil pengukuran beban kerja fisilyengan menggunakan data denyut jantung diketahui bahwa rata-rata denyut jantung pada pramudi Transjakarta koridor IX adalah sebesar 76,26 denyut/menit untuk shift I dan 83,10 denyut/menit untuk shift II. Berdasarkan denyut jantung, nilai ini dapat digolongkan ringan. Namun hasil konversi denyut jantung menjadi konsumsi energi dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik fisik responden menghasilkan nilai yang cukup besar, yaitu 7,81 kkal/menituntuk shift I dan 10,88 kkal/menit untuk shift IL Berdasarkan hasil tersebut pekerjaan pengemudi dapat dikategorikan sebagai pekerjaan yang berat. Dan basil uji hipotesis diketahui terdapat perbedaan yang signifikan antara konsumsi energi shift I dan Shift II di mana denyut jantung pramudi Transjakarta koridor IX pada shift II lebih besar dibandingkan shift I itu benar. Usulan perbaikan untuk mengurangi beban kerja fisik pada pramudi Transjakarta koridor IX adalah diberikan waktu istirahat pada pengemudi sebesar 3 jam 8 menit untuk shift I dan 4 jam 25 menit untuk shift II. Hasil pengukuran beban kerja mental dengan FIS Sugeno terhadap 66 pramudi koridor IX menunjukkan bahwa terdapat beban kerja mental pada pramudi dengan rentang 35,7 — 91,7. Dari ke-66 pramudi tersebut, 2% pramudi memiliki tingkat beban kerja mental rendah, 18% pramudi memiliki tingkat beban kerja mental tinggi dan 80% memiliki tingkat beban kerja sedang. Dari hasil pemilihan usulan intervensi ergonomi untuk menurunkan beban kerja mental menggunakan metode Fuzzy AHP, terpilih alternatif terapi musik gelombang otak untuk diimplementasikan.Berdasarkan basil pengukuran beban kerja mental setelah implementasi dapat disimpulkan bahwa implementasi beban kerja mental melalui terapi gelombang otak efektif menurunkan beban kerja mental pramudi Tranjakarta

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?