DETAIL KOLEKSI

Perbandingan kekakuan dan kekuatan lentur balok kayu glulam horizontal dan vertical = the comparison of stiffness and bending strength of horizontal and vertical wood beam glulam


Oleh : Indah Sulistyawati, Frans Effendi, Ako Adhy Setiawan

Info Katalog

Penerbit : Lemlit - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2003

Subyek : Wood

Kata Kunci : glulam, stiffness and bending strength, the maximum load


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2003_LP_SP_Perbandingan-kekakuan-dan.pdf 4989.61

T Tujuan dari penelitian ini adalah mengadakan pemilahan tingkat kekuatan (stress grading) berdasarkan Modulus Elastisitas (MOE) dari kayu utuh yang dibeli dipasaran, mengetahui kekakuan balok yang dinyatakan didalam besar Modulus Elastisitas (MOE), kekuatan lentur yang dinyatakan didalam besar Modulus Keruntuhan (MOR), beban maksimum yang dapat dipikul sampai terjadi keruntuhan dari Glulam Horizontal dan Glulam Vertikal akibat pembebanan yang mengakibatkan lentur serta mencari rasio keduanya, juga mengamati perilaku keruntuhan kedua jenis glulam serta mendapatkan faktor hubungan MOE dan BJ. Material kayu yang digunakan adalah Kempas dan Borneo serta bahan perekat sintetis Epoxy Bond EWA 120. Pengujian dilakukan dengan kadar air kayu dalam kondisi kering udara yaitu sekitar 14 s/d 16%. Glulam terdiri dari empat lapis lamina yang terdiri dari sisi-sisi terluar dengan MOE sekitar 160000 kg/cm2 s/d 200000 kg/cm2 dan dua lapisan didalamnya dengan MOE 100000 s/d 1300000 kg/cm2. Pelaksanaan pengujian dilakukan berdasarkan peraturan ASTM D143-94 (20000) (Test Methodss for Small Clear Specimen of Timber). Diperoleh hasil dan dapat disimpulkan: 1). MOE glulam horizontal lebih rendah dari pada glulam vertikal yaitu dengan rasio 95% artinya glulam vertikal lebih kaku dari glulam horizontal. 2). MOR glulam horizontal lebih rendah dari pada glulam vertikal yaitu dengan rasio 92% artinya glulam vertikal lebih kuat dari glulam horizontal. 3). Gaya maksimum yang dapat dipikul sampai terjadi keruntuhan glulam horizontal lebih rendah dari pada glulam vertikal yaitu dengan rasio 88%. 4). Kegagalan glulam horizonta; sering diawali dengan terjadinya slip pada sambungan antara lapisan kemudian baru terjadi kerusakan pada daerah tarik yaitu pada serat bawah penampang. 5). Slip disebabkan oleh karena proses perekatan yang kurang sempurna sehingga penampang tidak monolit, hal ini mengakibatkan penurunan sifat mekanis dari material. 6). Kegagalan glulam vertikal merupakan kegagalan lentur yaitu terjadi kerusakan pada daerah tarik atau serat bawah penampang.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?